Setengah Penuh
Sepengalaman saya, sesungguhnya saya tidak benar-benar memuja segala kemewahan yang terlihat megah atau terdengar gagah. Entah, mungkin saya apatis, dan memilih meninggalkan zaman yang semakin ajaib namun terasa dingin dan memusihi. Semua berlomba-lomba berlari paling kencang, dan tanpa sadar meninggalkan banyak hal, memuja kajaiban, berbicara sama, hingga terasa pengap dan hambar.
Beruntung hadir "mereka-mereka" (kelompok-kelompok musik yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu) yang menyelamatkan, mengasupi saya dengan kata-kata cinta yang tidak sekedar, lirik tentang kekecewaan (yang tidak melulu tentang cinta), hingga kritik untuk politik, dan tidak banyak kelompok-kelompok musik yang mengupasnya lebih dalam, menurut saya ini penting untuk perkembangan pola pikir saya, agar tidak mengalami keterlambatan dan ditelikung oleh zaman.
"Mereka" membentuk dan membantu saya dalam memilah informasi, film, buku, serta kosa kata dan sketsa yang akan saya tulis disetiap tulisan atau gambar-gambar saya. Iya,....."mereka" berpengaruh hingga kehidupan sehari-hari saya, berkat "mereka" saya tidak menonton sinetron, infotaiment dengan berita simpang siur, dan film-film layar lebar yang terdistorsi oleh money orientation.
EFEK RUMAH KACA (ERK)
Band asal Jakarta yang dibentuk pada tahun 2001. Beranggotakan Cholil Mahmud (voice, guitar), Adrian Yunan Faisal (Bass, guitar, voice), Bagus Sudibyo (Drum), serta Airil Nur Abadiansyah yang kerap di panggil "Poppie", yang terhitung pada awal Juli 2016 ini resmi sebagai personil tetap. Setelah berganti-ganti nama dan personel sejak awal pembentukan, pada akhirnya mereka menemukan jati diri dengan nama EFEK RUMAH KACA. Di tahun 2010, persis saat saya pertama kali mendengar nama mereka dari salah satu teman, dan terasa tidak asing, karena saya sering mendengarnya saat guru geografi saya menerangkan dampak dari pemanasan global, namun saat teman saya memutarkan salah satu lagu dari mereka, saya ternganga, "lho, ini band?"
"Tersungkur di sisa malam, kosong dan rendah gairah
puisi yang romantis, menetes dari bibir
murung itu sungguh indah, melambatkan butir darah
nikmatilah saja kegundahan ini, segala denyutnya yang merobek sepi
kelesuan ini jangan lekas pergi, aku menyelami sampai lelah hati."
Ya, liriknya memang terasa gelap, dan saya jatuh hati, mereka menyampaikan cinta dengan isian kata-kata yang tidak hanya dipermukaan, tetapi dalam, dan tidak murahan. Point penting dari karya mereka yang saya rasakan adalah setiap lagu maupun album yang diciptakan tidak terasa seperti terburu-buru atau 'demi mengejar sesuatu', hingga terasa santai, namun sampai, sampai pada telinga dan otak saya, terserap dengan baik setiap pesan yang ingin disampaikan.
Buat saya, EFEK RUMAH KACA banyak menyuarakan hal-hal yang sebelumnya tidak bersuara dan menjadi cerminan, karena mereka berfokus pada apa-apa yang sebenarnya based on true story, dan tidak jarang saya merasa "oh iya juga ya", "lho, ini bener sih", atau "hahaha, gue banget sih emang". Mereka menjabarkan dengan epic setiap potret keadaan yang dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari manusia khususnya di Indonesia, seperti sosial, gaya hidup, psikologis, cinta, penyuka sesama jenis, industri musik saat ini, politik, bahkan religi. Liriknya yang menyentil dalam mengkritisi banyak hal membuat otak saya terangsang untuk memikirkan hal-hal kecil yang dulu saya tidak sadar bahwa itu haruslah dipikirkan.
EFEK RUMAH KACA hanya satu dari banyak kelompok-kelompok musik kecintaan saya, ada banyak sebenarnya, tetapi tangan saya hanya menulis tentang ERK, itupun hanya sedikit, mungkin karena dukungan kerinduan atas euphoria konser "PASAR BISA DICIPTAKAN" yang diadakan di Bandung tahun 2015 silam.
Terima kasih untuk "mereka-mereka" yang menemani saya berkontemplasi dan berproses, sejauh ini saya senang "menelan" dan mencerna buah pola pikir "mereka" yang disajikan dalam bentuk karya (re: lagu), hingga saya mampu menuangkan kembali dalam pemikiran baru. Terima kasih.

0 komentar