Welcome to our website !

Tulis Tangan

RANDOM CONTENT FOR NORMAL'S HEAD

WILL BE YOUR FAVORITE CLICHE

WILL BE YOUR FAVORITE CLICHE
21+

angelina jolie behind the scenes - Pesquisa Google:

Have you ever feel broken and you start thinking to kill someone? or you start thinking 'how to make a scene like you accidentally kill someone' then say something weird and no one understands what you say, and everyone will thinking you are insane, or suffering mental health disease, and then they go away, and there will be no cop, you just have to carry that corpse and say sorry for the last time.


I have 
literally i almost thinking about it in my every sadness.
Too bad i know,
but, it makes me more.....
more.....
more sad,
yea sad,
because i never really can do that,
ah, i'm not insane, 
not suffering from mental health disease,
or spiritual disorders.


In the end,
Wake up at 2 am in the morning,
and thinking about 'how to not cry when i realized that he had disappeared'.




           mouthful of hair like a field:
            Sesungguhnya saya bukan manusia yang pandai bermukadimah, saya tidak tahu cara membuka cerita dengan baik, atau menulis 'sesuatu' agar menarik, okay, pada dasarnya saya bukan orang yang menarik, baiklah.

            Rotasi jarum jam seolah sudah memiliki pola jauh sebelum saya lahir ke dunia, tua, teratur, dan mengatur, hingga dalam saat-saat tertentu tidak sedikit manusia mengambil jalan atau hal yang jauh lebih praktis untuk lari mengejar waktu. Sedang saya, membiarkan tubuh saya membusuk dibalik bilik beratap jerami, ditemani lagu-lagu berlirik tentang wanita mati didalam closet.
Saya tertidur di siang hari, and wake up at 2 am, mencuci muka, memakan kadaver, dan kemudian merayakan ketidakbergunaan yang semakin menghimpit lini otak, yang pada akhirnya mengaburkan segalanya, lalu, begitu setiap hari.

Apakah terdengar nyata? jelas saja tidak, siapa yang mau memakan mayat manusia?, hanya saja derita seperti itulah saat terbangun dari tidur pukul 2 pagi, ini dikarenakan satu dan lain hal, alkohol, playlist musik, dan menyadari bahwa saya benar-benar bukan tunahistoris. Saya takut untuk kembali tidur, jika saya tidur, hari esok pasti hadir lebih cepat.

02.00 a.m
Saya memutar balik rotasi jam yang ada di dalam kepala saya kearah berlawanan, I'm trying to make a time machine inside my head, membayangkan semua orang berjalan mundur, dan berbicara kalimat menjadi tamilak, ...... just kidding !. Saya membuat mesin waktu, untuk mengembalikan setiap momen dimana semuanya masih terasa baik-baik saja, seperti Benny yang tidak jadi bunuh diri. namun, ada sekelumit hal yang selalu melesat entah di bagian otak saya yang sebelah mana, terasa sakit, ada sosok-sosok tertentu yang berada di tempat atau peristiwa penting di masa lalu, ternyata semesta selalu menyuguhkan cerita pahit saat saya mulai berani lagi untuk melawan waktu. Namun, siapa yang mampu hidup saat masa lalu selalu menyeret dan berusaha mengurungmu dalam ruang sesak? tidak kamu, pun saya. "ini tidak akan selalu seperti ini sampai kau berani mendobrak habis batas masa lalumu yang kelam!" ucap saya pada diri saya sendiri, ucapannya sarat akan rasa lelah, ya.., saya lelah, mungkin satu-satunya obat paling nyata adalah menyadari bahwa waktu memang diciptakan dengan syarat mampu membawa manusia untuk ber-diakronik, lalu kemudian, manusia hanya harus menerima.


 
        Beginilah hasil yang telah sama-sama kita ketahui, saat menguliti perih yang telah lama tertanam, isinya adalah mimpi buruk tak kunjung usai, menangisi malam-malam dengan sesak di dada, andai saya memikirkan dystopia tentang beberapa tahun kemudian saat saya menitipkan segalanya dalam waktu, mungkin saat penitipan itu tidak akan ada. Buruknya, tidak bisa mengganti waktu dan kesempatan yang sudah berlalu, dan karena alasan itu saya belajar dari putaran waktu yang mengindikasikan pola progresivitas, kemajuan detik demi detik yang halus dan harus.
Pada tulisan ini, saya mencoba bermain-main dengan waktu, namun bukan sebuah logikal tekstual yang mengerucut pada suatu peristiwa atau apapun yang telah terjadi, anggap saja ini racauan anak ingusan saat kelaparan.
        Sebuah kisah yang terlahir oleh Semesta pada tahun kelam, dengan susunan narasi yang tertulis disetiap tumpukan kertas bekas yang telah didaur ulang, di setiap teks narasi selalu ada bayang-bayang kata dari kertas lama. Narasi yang tersusun rapi sulit terbaca, hingga Pemeran kacau ditengah jalan, yang terbaca hanya cerita lama, Pemeran mengamuk dan menumpahkan segelas beer-nya yang berakibat kertas daur ulang hancur tak karuan. Pemeran mencoba menjadi sutradara sekaligus pemeran, tanpa narasi, lalu, spontanitas membawanya pada pertemuan, dengan sosok yang membentuk skema tanpa batas dan membawa angin segar, mengajarkan Pemeran membunuh waktu dan menjadikan mendengar musik adalah proses spiritual. Sejak saat itu, bagaimana bisa, lagu-lagu tentang rasa sakit tidak lagi membawa rasa sakit. Terima kasih telah hadir.