NAY
Nay
a Film by Djenar Maesa AyuSaya tidak paham sebenarnya kenapa saya beri tag setiap tulisan saya mengenai film adalah 'Bicara Film', padahal saya ngga ngerti banget soal per-film-an, sinematografi, atau apapun lah unsur-unsur yang mendukung untuk menilai sebuah film, dan memang saya bukan menilai sebenarnya, tapi memberi opini tentang film yang telah saya tonton, dan pastinya sampai habis, jadi 'Bicara Film' ini adalah opini saya tentang film, jadi, jangan berharap akan mendapat ilmu-ilmu per-film-an disini, heheh.
Sudah 8 bulan terakhir ini saya rajin mengecek Kineforum, hanya untuk melihat informasi tentang film-film yang diluar kanal komersial, dan membaca informasi atau program tentang film-film dokumenter luar negeri ataupun dalam negeri. Kemudian saya menemukan jadwal film-film Djenar Maesa Ayu, ada hUSh, Nay, Mereka Bilang, Saya Monyet!, kemudian SAIA, dari ke-empat film tersebut, saya penasaran dengan film Nay, karena saya tahu pemerannya Sha Ine Febriyanti menjadi pemenang dalam kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik di IMAA 2016.
Akhirnya saya berkesempatan menonton Nay diakhir pekan. Ini kali pertama saya menonton film berkonsep one man show atau monolog. Sebagai newbie, saya sempat merasa takut bosan dengan film monolog, yang dimana harus mendengarkan setiap detail percakapan yang melulu. Tapi ternyata, 80 menit berlalu diluar dugaan saya, saya tidak bosan, dan sangat tertarik dengan setiap detail percakapan, setiap percakapan sarat akan pesan, dan dikemas dalam bahasa sehari-hari, dan yang pastinya ciri khas dari Djenar, bahasa yang lantang dan berani dalam ujaran amarah dan kekecewaan.
Saya pastikan, setiap opini yang terketik di dalam tulisan ini objektif adanya.
Film Nay bercerita tentang aktris berusia 30 tahun-an dengan latar belakang masa lalu yang kelam, Nay sedang dalam perjalanan sepulang dari rumah sakit, ia mendapati dirinya hamil 11 minggu dan kekasih yang terlalu berbelit-belit dan acuh tak acuh tentang kehamilannya, serta sahabat yang sekaligus manager, yang dengan halus menggiring Nay untuk menggugurkan kandungannya hanya demi karir dan kesempatan masa depan yang tidak datang dua kali. Disepanjang perjalanan Nay dirundung rasa gelisah, amarah, kecewa, serta bingung, akan apa yang harus Ia lakukan pada bayi yang ada didalam kandungannya hingga Ia berbicara dengan bangku kosong disebelahnya, wujud atas kemarahannya terhadap masa lalu.
Dalam durasi 80 menit, Djenar mampu menginterpretasikan cerita tentang berbagai macam fakta serta sifat-sifat manusia yang dekat dengan kehidupan. Djenar menjabarkan banyak hal penting tentang traumatis atas pemerkosaan serta kekerasan orang tua terhadap anak. Pada plot-plot tertentu saya banyak menduga-duga, semisal, pada saat mobil Nay bertabrakan dengan motor akan terjadi kecelaan hingga Nay meninggal, ternyata tidak, lalu, saya menduga Nay akan menggugurkan kandungannya, karena didukung dengan sifatnya yang sangat meledak-ledak, namun yang terduga sungguh jauh dari itu.
Buat saya ini film bagus, dan Sha Ine Febriyanti memerankannya dengan baik, sehingga saya sebagai penonton tahu setiap perasaan yang ada di dalam cerita tersebut, namun, entah kenapa, untuk pengalaman pertama kali menonton one man show, Sha Ine Febriyanti kurang memuaskan hati saya, mungkin ini masalah selera, saya mengharapkan Ine menangis sesegukan hingga teriak saat mengingat semua yang sedang Nay alami, dan marah semarah mungkin saat Ia mendapati sikap kekasih dan sahabatnya yang tidak sesuai dengan hatinya. Yaa, mungkin selain faktor selera, faktor yang sudah saya katakan diawal juga mempengaruhi soal saya ngga ngerti banget per-film-an maupun akting.
Tapi pesan saya adalah, datang ke Kineforum itu bagus, mengapresiasi ruang redam yang menampung karya-karya yang mungkin tidak mendapat kesempatan atau tidak ingin membawa karyanya ke depan inverstor bisnis.
J.G
0 komentar