S AN U R
arak bali begitu baik,
saya dan teman-teman membawa masing-masing cerita,
dan mereka menjadi orang-orang yang saya percaya kredensialnya,
mereka tidak menilai,
mereka memberi saya ruang untuk bermonolog.
Sesaat saya mendekam dalam ingatan,
tingkah konvensional mereka memecah keheningan,
agaknya arak bali melampaui ekspektasi kami,
Oga menjadi seketika berdansa dan berbahasa Inggris,
Ihsan yang akhirnya berdansa dengan Nirvana,
dan Bang Cun yang mendadak menjadi penatar Oga agar gerakannya tetap mengikuti irama.
Sesungguhnya tidak sedikit saksi "Monumen Sanur Bahagia",
namun sayangnya mereka bukan bagian dari era millenial,
tidak ada yang merekam kami dengan kamera telepon genggam.
Perihal mengenai "Monumen Sanur Bahagia",
spontanitas Oga pada saat mabuklah yang menentukan tema momen tersebut, dan membuat tawa kami semua pecah.
Saat momen berdansa selesai,
kami berempat terlentang dengan pemandangan bintang yang beberapa kali terjatuh dan kami menjadi saksinya.
Terus terang, malam itu seperti proses spiritual bagi saya,
saya mencipta mesin waktu di kepala,
dan mengembalikan momen saat semuanya masih terasa baik-baik saja,
ada sekelumit hal yang berpendar di kepala saya entah sebelah mana,
saya ingin bertemu,
tapi nanti,
mungkin beberapa tahun kedepan,
saya ingin menyodorkan pertanyaan-pertanyaan akan apa yang belum saya mengerti dari beberapa pernyataannya, atau mungkin saya yang akan bercerita padanya tentang semua hal yang terjadi beberapa tahun setelah kepergiannya.
Kesadaran atas kelangkaan momen pada malam itu menjadi daya tarik untuk saya tulis,
yang saya sadari adalah,
kami berempat sengaja dipertemukan dan digiring,
tidak ada yang kebetulan didunia ini,
masing-masing dari kami berada di titik yang menurut saya masih dalam lini yang sama,
kegelisahan atas hidup, berusaha lari dari zona yang terlalu nyaman,
dan memiliki rasa rindu, mulai dari kekasih, keluarga, dan masa lalu.
Bali, November 2017.
J.G

0 komentar