Welcome to our website !

Tulis Tangan

RANDOM CONTENT FOR NORMAL'S HEAD

WILL BE YOUR FAVORITE CLICHE

WILL BE YOUR FAVORITE CLICHE
21+
A photo from Eternal Sunshine of the Spotless Mind (Film; 2004)

Pada suatu ketika, 
pukul tiga pagi saya terbangun dengan tenang,
membuka mata perlahan,
memandang sudut dinding di langit-langit kamar,
cukup lama berbincang dengan kesunyian,

"Apa yang saya dapat dari sekian lama hidup?
saya rasa hanya omong kosong."
Berkali-kali saya berharap,
terbangun dari tidur saat semua berubah baru,
tak ada hal lama yang tertinggal,
menjalani semua dari awal dan ketidaktahuan,
tidak tahu bagaimana rasanya menyakiti dan disakiti,
tidak tahu bagaimana rasanya dirugikan dan merugikan,

"Jika dikabulkan,
akankah saya tetap hidup dengan cara yang sama?".

J.G
Mary is Happy, Mary is Happy - Biennale College - 24 fois la vérité24 fois la vérité par seconde

Pagi adalah tentang ucap syukur saat diberi kesempatan bangun dari tidur untuk kesekian kali,karena 
kesekian kali pula saya takut untuk tidur, saya takut tak mampu meninggalkan dunia mimpi jika ternyata dunia riil tidak lah seindah itu, atau, saya takut jika saya dipertemukan dengannya di alam mimpi. Semua rasa takut menggenggam erat tubuh ini, tubuh yang menggigil karena kecewa akan rindu, tubuh yang membiru karena menunggu.

Ini tidak semudah yang tertulis, dialog antara hati dan pikiran pada pukul dua malam tidaklah mudah untuk dimengerti, bahkan terkadang satu sama lain berselisih hingga bertengkar hanya karena hati yang terlalu dialogis tentang cinta, yang ternyata pikiran tidaklah sepenuhnya mengerti.
hati bisa saja menjangkau segala hal yang lebih luas dari pada cinta, namun ia membiarkan pikiran lebih bekerja, agar tubuh bangkit dan tak melulu terenyuh.


         henrietta harris   

              Ada nama yang merajah saat lelah membekap hingga napas terengah. Sepengalaman saya, hal ini saya rasakan saat rindu bermunculan di setiap kanal nadi tubuh saya. Tak seharusnya sesulit ini mengatasi rasa rindu disaat dunia sudah millennial dan manusia bergerak begitu cepat. Seharusnya saya gunakan telegram untuk menyampaikan rasa rindu dari kejauhan dengan cepat, berdialogis dengannya tentang segala hal yang saya rasa, mengirim emoji hati, dan bertukar foto tentang apa yang sedang dilakukan.

              Namun isi kepala ini terus menceritakan tentang masa dimana saat kau mampu membaca berulang-ulang buku kesukaanmu, berdiskusi tentang politik buta, hingga bermain tebak lagu dan selalu saya yang menjadi pemenangnya, tak ada bahasan perihal lini kini dalam konteks millennial, karena kau tak suka tentang apa-apa yang tersaji dengan cepat.

"Saya tidak suka jika kamu terus-menerus merengek saat rindu, tak ingatkah kau saat dimana orang tua kita tak mengenal telegram? mereka menyimpan rindu dalam-dalam hingga pada saatnya tiba,  hingga mereka tak terpisahkan. Tolong hentikan rengekanmu tentang rindu, saya pun rindu."

J.G

morning light:

Adalah dia yang belum lama ku jumpa,
diseberang jalan didekat rumah,

tak tertahan rasaku yang bingung,
haruskah tersenyum ataukah menangis,

                                     sepersekian menit ia menghilang,
                                     meninggalkan bau sisa hujan,

                                              tak sedikitpun jejaknya yang tertinggal,
                   sekelebat menghilang,

                             meninggalkan rasa yang menyesakkan dada,
                             entah dari mana datangnya.

J.G
lostinpersona:

Sering saya berbicara pada ingatan masa lampau,
meminta bantuan bagaimanapun caranya agar saya mampu untuk pergi,
tapi sesering itu juga ia datang,
mengajak saya berdialog kecil yang berisi tentang nostalgia,
membawa saya ke ruangan kecil yang selalu saja,
hangat dirasa,
secangkir teh hangat diatas meja kayu berbentuk lingkaran.
.
Proyektor itu membiaskan cahaya pada kain putih,
entah siapa yang menyiapkan semuanya,
sorotan cahaya yang berisikan kenangan masa lalu,

"Kamu mau bawa saya kemana lagi?"
ucapanku sedikit membentak pada kekosongan,
saya rasa ialah yang menyiapkan semuanya,
"Saya sudah sering bicara sama kamu, saya mau pergi!"
tidak ada yang menjawab, yang terdengar hanya
 gema dari suara saya sendiri,
"Saya ngga bisa terus kayak gini!, tolonglah, saya harus menerus-
kan hidup saya"

Ambisi akan masa depan justru menghempas saya jauh ke dalam masa lalu,
Ini seperti hukuman yang halus dan harus,
saat bias-bias cahaya memutar cerita di atas kain putih,
tentang dua anak manusia memangku harapan penuh cinta,
saling berjanji diatas rerumputan dan disaksikan hembusan angin,
tak ada ingatan yang samar,
semua teringat jelas,
selalu saya ingat perasaan itu, dan akan selalu rindu.

.
Saya tidak ingat kapan tepat pertama kali kamu menuliskan puisi untuk saya,
tapi saya ingat perasaan saat pertama kali puisi itu sampai di kotak pesan saya.

Inilah cara kita bertemu lagi,
membangun ingatan tentangmu dikepala,
kau tak tersentuh,
namun terasa,
kekosongan ini mengisi semua dengan kenangan,
selalu ada kebahagiaan dibalik kenangan yang ada.

Terima kasih untuk semua kenangan,
terima kasih sudah membuatku bercerita.

J.G


jrxdn:  The City | Instagram | Facebook:

"Sekencang apapun teriakmu, ia mampu meredamnya hingga tak terdengar." begitulah bayanganku tentang Ibukota yang cantik nan keparat ini.

Ibukota bukan hanya tentang Monas, Menteng dan Jl. Sudirman, Ibukota juga tentang paradoks; rumah kumuh, gang sempit, rumah dibantaran kali dan pemulung yang tidur digerobaknya. Ibukota itu tentang kesenjangan, walau kita semua tahu bahwa hidup memang pahit, dan yang menang adalah mereka yang mampu mengemasnya menjadi manis. Ibukota mampu menghancurkan standar rasa bahagia saya, mampu menarik manusia jauh dari kata sederhana, mereka yang sederhana saat ini hanya belum menemukan saja kesempatan lebih untuk ikut terseok oleh maunya Ibukota.

Lalu, apakah saya benci Ibukota? jelas tidak. Ini semua tentang love and hate relationship. Saya senang berada di Ibukota, namun juga benci karena terlanjur berada didalamnya. Mungkin sebagian orang menganggap ini adalah luapan klise dari mereka yang gagal di Ibukota, saya ralat, ini luapan dari saya yang teradiksi oleh Ibukota, karena saya tidak pernah merasa gagal.

Ibukota menyudahi masa remaja saya, tidak memberi waktu untuk saya membuat origami burung, menggambar dan menghias kamar, selamat! saya ucapkan bagi mereka yang masih bisa. Ini kenapa saya benci terlanjur berada di Ibukota, tidak ada rasa percaya terhadap manusia lain yang juga berada didalamnya, semuanya terasa bergerak sangat cepat, siapa cepat, dia dapat, manusia berubah binatang, termasuk saya.

Andai Ibu saya ada di Ibukota, saya hanya perlu pulang kerumah dan memamah nasehat, andai kau juga ada di Ibukota, saya tidak perlu menjadi seperti sekarang.

But, well, something that makes you the happiest and the saddest person at the same time, that's when it's real, that's when it's worth something.

J.G
Inner Thoughts Statue Memphis Collage 1, statue, memphis, design, graphic, collage, color, colour, memphismilano, Society6, memphisdesign, postmodern, 80s, 90s, classical, thoughts, socrates, grid, classical, geometric, geo, modern, rapsquatInner Thoughts Statue Memphis Collage 1 Art Print:

Sebagai anak muda yang hidup di jaman teknologi dan networking, beberapa persen pertumbuhan pola pikir gue didominasi oleh teknologi dan networking itu sendiri. Teknologi yang gue punya dulu itu adalah handphone jadul hingga upgrade ke handphone yang canggih, komputer jadul hingga berubah ke laptop, networking yang gue mainin itu Friendster, Facebook, Blog, dll, lalu sekarang ditambah dengan platform-platform berita yang bikin kita mudah buat baca tanpa mesti langganan atau beli koran.

Awalnya gue senang dan sangat enjoy dengan segala 'meriah'nya dunia teknologi networking, apalagi waktu boomingnya twitter. Saat itu gue salah satu orang yang seneng vokal dalam issue positive yang lagi hits, gue me-retweet setiap tweet orang-orang yang menurut gue berpengaruh. Dan disanalah gue mulai banyak berpikir dan banyak bahasan obrolan gue sama orang lain itu based on twitter issue, iya .... se-berpengaruh itulah social media di hidup gue.

Tapi, setelah beberapa tahun ini gue 'nyebur' di social media, gue tidak lagi menemukan 'meriah'nya social media yang ada pada waktu itu, dimana isinya masih guyonan dan kultweet yang isinya benar-benar menambah pengetahuan. 

Apa kabar social media saat ini? Riskan !

Berita kecil dapat menjadi besar dalam hitungan jam bahkan menit !
Ini bagus, JIKA, berita yang dibesar-besarkan atau disebar luaskan adalah berita yang dapat dipertanggung jawabkan dan tidak menjadi bahan bakar untuk timbulnya kebencian. Karena ini bahaya, menurut gue jaman sekarang itu banyak banget berita-berita yang dipelintir hingga menjadi hoax.

Terus? Dampaknya apaan?

Dampaknya adalah, orang-orang yang belum 'pinter' main social media bakal gampang banget 'kebakaran' dengan berita-berita yang disajiin di social media, misal, ada orang memposting atau me-repost sesuatu tanpa melampirkan bukti concrete, dan seketika itu bisa menjadi sumber terpercaya buat orang-orang yang emang belum 'pinter' main social media. and then mereka menyebarkan itu di setiap akun social medianya. Atau, mereka menjadi seseorang yang judgemental, gampang banget bully-ing someone that they don't even know.

Yang gue rasakan tentang social media sekarang adalah, bukan lagi tempat bersosial antara satu individu dengan yang lainnya, bukan lagi tempat yang hangat untuk berlama-lama di dalamnya, melainkan tempat penggiringan opini masyarakat terhadap sesuatu, yang gue sayangkan adalah, sesuatu itu adalah issue-issue sara atau sesuatu yang bisa menjadi bahan bakar kebencian. Yang gue sayangkan lagi ialah, masih banyak banget orang-orang yang gampang kegiring, lalu cepat membenci  sesuatu atau seseorang hanya dengan sebuah cerita yang tidak di dukung dengan bukti concrete.

Jaman sekarang tuh apa sih yang bisa di percaya? ada banyak atau cuma guenya aja yang apatis, ya? karena menurut gue kadang platform-platform berita terpercaya aja masih suka melintirin berita, apalagi akun-akun social media! yang jelas-jelas registrasi akun baru itu cuma butuh beberapa menit dan TADAA! jadi!.

So guys, gue juga belom 'pinter' kok!, tapi setidaknya gue memilah-milah apa aja yang bisa di konsumsi, dan mencari banyak lagi referensi sebelum menyimpulkan atau mempercayai sesuatu.


J.G