Welcome to our website !

Tulis Tangan

RANDOM CONTENT FOR NORMAL'S HEAD

WILL BE YOUR FAVORITE CLICHE

WILL BE YOUR FAVORITE CLICHE
21+
Lost, Lost, Lost, Jonas Mekas (1976)

Saya dan kamu adalah cerita yang saya buat,
saya bahkan sudah mengetahui akhir cerita sebelum saya menulisnya,
bagai nelayan melaut dengan dayung dan tanpa membawa jaring, 
melawan badai, perubahan arus dan sudah mengetahui ia akan pulang tanpa membawa apa-apa,

Sejauh ini saya hanya akan melakukan yang mau saya lakukan,
terlebih saya seorang masokis,
saya senang menyakiti dan menyusahkan diri sendiri,
maka tak ayal saya senang menjalin hubungan denganmu,

Anggap saja ini distraksi dari tentang hidup yang memaksa saya untuk terus menjadi seorang realis,
tentang hidup yang penuh hambatan hingga kegagalan yang membuat semangat padam,
tentang keadaan hati dan mental yang rentan karena tekanan,
dan ketakutan akan tidak jelasnya masa depan.

J.G
Vancouver Sea Wall….

"Ketika semua hal yang menyenangkan tak lagi menyenangkan, ketika kesedihan menyeruak dengan paksa hingga mengendap didalam ingatan, pergilah ke tempat nun jauh."

Ada berapa banyak orang yang melakukan kesalahan dengan sadar?
Ada berapa banyak orang yang tenggelam dalam kesalahannya?
Ada berapa banyak orang yang pergi karena rasa sesal?

Di beberapa malam, saya dipenjara dan dipaksa memuntahkan semua kesalahan yang dengan sadar saya perbuat, bertukar rasa jika-saya-adalah-dia, dan semua kalimat pembelaan pada waktu itu yang mati-matian saya ungkapkan terasa seperti sampah, hingga rasa sesal semakin menyesakkan.

 The view out of the plane window  "When you love someone you have to be careful with it, you might never get it again."

Saya pergi membawa semua sesal, meninggalkan semua tanpa memilih untuk tetap pada apapun dan siapapun.
Entah kebahagiaan macam apa yang membuat saya mengorbankan kepercayaannya, kepercayaan atas semua yang saya lakukan, mengorbankan cintanya yang selalu ingin tumbuh bersama-sama.

Saya pergi dan masih berharap semesta dan mimpi kita yang saya harap akan selalu sama membawamu ketempat yang saya pilih menjadi tempat penebusan dosa.



       Pinterest: @sofibat | Instagram: sofibatt | Snapchat: sasofiab

       Di menit-menit pertama pertemuan, saya mencari tahu siapakah yang akan menjadi pemeran utama jika saja cerita ini di-film-kan. Saya yang pergi menemuinya tanpa beban, atau Ia yang pergi dengan segala beban. Butuh kejelian dan kepekaan tinggi untuk menyulap kebimbangan dan kekhawatiran menjadi tawa dan hal yang menyenangkan.

       Di beberapa perbincangan, atau momen saat beberapa lagu yang bermakna dalam tak sengaja terputar, menggiring saya pada kesadaran bahwa posisi pihak ketiga yang tak terlibat langsung pada hidup masing-masing peran yang sarat akan tragedi.

       Kehidupannya begitu monoton, saya sebut itu tragedi, sedangkan saya sibuk dengan hidup yang sangat komedi, walau tragedi dan komedi memang hanya soal perspektif. Namun saya rasa, hidupnya punya arus emosi yang sangat deras, dan membuat ia sesekali menjadi pemarah dan emosional, semoga saya salah.

       Bagi saya, ada dua cara untuk tetap hidup pasca mengalami trauma atau duka yang mendalam, pertama adalah berangkat dan pergi menjauh dari hal yang menyelipkan masa lalu, kedua, tenggelam didalamnya dan menjalani hidup seperti biasa dengan menderita.

       34 jam menjamah rasa, yang saya dapat bukanlah tentang cinta, melainkan tentang hidup itu sendiri, tentang bagaimana berusaha menghadapi realita hidup yang terkadang tragis namun tak bisa dihindari.

J.G




     

Her - Spike Jonze / "Falling in love is a crazy thing to do. It’s like a socially acceptable form of insanity."

Para jiwa muda sibuk mengejar cita dan cinta,
tak ayal menghabiskan waktunya memikirkan rasa yang disebut cinta,
beragam kata dan sinonim untuk kata cinta,
mereka yang berbahagia menyingkat cinta menjadi arti yang melulu bahagia,
benarkah begitu adanya?

tidakkah cinta seperti mata uang logam?
memiliki dua sisi yang berbeda.

Bagaimana jika ternyata ada beberapa manusia yang merasa cinta adalah distopia?

Tidakkah jatuh cinta begitu menyenangkan?
membuat hidup menjadi hal yang menarik?

Saat kau memutuskan untuk jatuh cinta,
kau bertaruh satu hingga dua urat nadi.

"Saya pergi mengasingkan diri dari dunianya, tak lagi menampakan wajah dihadapnya, itu tak lain sebab saya mencintainya, tak ingin ia terluka untuk kedua kalinya."

"Saya bahagia selalu berdampingan denganmu, cinta ini akan selalu tumbuh."

"Saya cinta, tapi saya tidak bisa, saya tidak cukup percaya untuk hidup lagi bersamanya, saya akan hidup sendiri untuk waktu yang sangat lama."

"Saya mencintamu tanpa pilihan, silahkan pergi untuk hal yang kau suka, saya akan menunggu."

"Saya akan menemanimu hingga nanti, saya akan menjadi salah satu orang yang siap saat kau butuhkan."

"Saya akan berusaha mencintainya, mungkin butuh waktu yang tidak singkat."

"Saya akan sangat mencintaimu kalau kau berbaik hati membelikanku kalung itu, hihihi."


Apakah semua terbaca bahagia?
Semua kembali pada cinta dari batas waktu, batas ruang, ketakutan, kekayaan, kepolosan, hingga kebohongan.
A photo from Eternal Sunshine of the Spotless Mind (Film; 2004)

Pada suatu ketika, 
pukul tiga pagi saya terbangun dengan tenang,
membuka mata perlahan,
memandang sudut dinding di langit-langit kamar,
cukup lama berbincang dengan kesunyian,

"Apa yang saya dapat dari sekian lama hidup?
saya rasa hanya omong kosong."
Berkali-kali saya berharap,
terbangun dari tidur saat semua berubah baru,
tak ada hal lama yang tertinggal,
menjalani semua dari awal dan ketidaktahuan,
tidak tahu bagaimana rasanya menyakiti dan disakiti,
tidak tahu bagaimana rasanya dirugikan dan merugikan,

"Jika dikabulkan,
akankah saya tetap hidup dengan cara yang sama?".

J.G
Mary is Happy, Mary is Happy - Biennale College - 24 fois la vérité24 fois la vérité par seconde

Pagi adalah tentang ucap syukur saat diberi kesempatan bangun dari tidur untuk kesekian kali,karena 
kesekian kali pula saya takut untuk tidur, saya takut tak mampu meninggalkan dunia mimpi jika ternyata dunia riil tidak lah seindah itu, atau, saya takut jika saya dipertemukan dengannya di alam mimpi. Semua rasa takut menggenggam erat tubuh ini, tubuh yang menggigil karena kecewa akan rindu, tubuh yang membiru karena menunggu.

Ini tidak semudah yang tertulis, dialog antara hati dan pikiran pada pukul dua malam tidaklah mudah untuk dimengerti, bahkan terkadang satu sama lain berselisih hingga bertengkar hanya karena hati yang terlalu dialogis tentang cinta, yang ternyata pikiran tidaklah sepenuhnya mengerti.
hati bisa saja menjangkau segala hal yang lebih luas dari pada cinta, namun ia membiarkan pikiran lebih bekerja, agar tubuh bangkit dan tak melulu terenyuh.


         henrietta harris   

              Ada nama yang merajah saat lelah membekap hingga napas terengah. Sepengalaman saya, hal ini saya rasakan saat rindu bermunculan di setiap kanal nadi tubuh saya. Tak seharusnya sesulit ini mengatasi rasa rindu disaat dunia sudah millennial dan manusia bergerak begitu cepat. Seharusnya saya gunakan telegram untuk menyampaikan rasa rindu dari kejauhan dengan cepat, berdialogis dengannya tentang segala hal yang saya rasa, mengirim emoji hati, dan bertukar foto tentang apa yang sedang dilakukan.

              Namun isi kepala ini terus menceritakan tentang masa dimana saat kau mampu membaca berulang-ulang buku kesukaanmu, berdiskusi tentang politik buta, hingga bermain tebak lagu dan selalu saya yang menjadi pemenangnya, tak ada bahasan perihal lini kini dalam konteks millennial, karena kau tak suka tentang apa-apa yang tersaji dengan cepat.

"Saya tidak suka jika kamu terus-menerus merengek saat rindu, tak ingatkah kau saat dimana orang tua kita tak mengenal telegram? mereka menyimpan rindu dalam-dalam hingga pada saatnya tiba,  hingga mereka tak terpisahkan. Tolong hentikan rengekanmu tentang rindu, saya pun rindu."

J.G