Welcome to our website !

Tulis Tangan

RANDOM CONTENT FOR NORMAL'S HEAD

WILL BE YOUR FAVORITE CLICHE

WILL BE YOUR FAVORITE CLICHE
21+
nice Instagram is a wonderful thing. It joins us all together and introduces us  to t... by http://www.danazhome-decorations.xyz/home-interiors/instagram-is-a-wonderful-thing-it-joins-us-all-together-and-introduces-us-to-t/


Sejak satu minggu terakhir,
yang sering terlintas dan mengisi saat tidak memikirkan apapun adalah apa yang akan terjadi disaat saya memasuki usia 24 tahun nanti?

lalu, pertanyaan selanjutnya, apakah pemilihan prioritas dalam hidup saya akan membaik atau malah memburuk?

parameter seperti apa yang akan saya miliki kelak untuk mencapai standar rasa bahagia hingga rasa sedih?

apakah saya akan menjadi seorang pemaaf atau malah pendendam?

apakah saya akan terus membeli buku atau malah menyingkirkan buku?

jika saya memuntahkan semua hal yang pernah saya lakukan selama ini, apakah saya akan terus hidup dengan cara yang sama?

siapa sajakah orang yang saya sakiti hatinya?

manusia seperti apa Julia selama ini?

adakah mimpi yang sudah mulai saya tekuni agar menjadi kenyataan?

meski tak seharusnyalah saya mengkhawatirkan segudang hal yang sudah seharusnya saya hadapi.
kekhawatiran ini berangkat dari rasa yang tidak seperti biasanya.
Disetiap akan berganti usia, tidak pernah ada sekelumit sekalipun tentang kekhawatiran yang saya rasa malah akan menjadi beban, yang terlintas justru hanya tidak sabar tentang kado apa yang akan saya terima?.
Diakhir usia 23 tahun ini rasanya berbeda, saya lebih kritis tentang apa yang sudah dan kelak harus saya lakukan. Entah apa penyebabnya.



Sabtu malam di Bali menjadi klimaks,
arak bali begitu baik,
saya dan teman-teman membawa masing-masing cerita,
dan mereka menjadi orang-orang yang saya percaya kredensialnya,
mereka tidak menilai,
mereka memberi saya ruang untuk bermonolog.

Sesaat saya mendekam dalam ingatan,
tingkah konvensional mereka memecah keheningan,
agaknya arak bali melampaui ekspektasi kami,
Oga menjadi seketika berdansa dan berbahasa Inggris,
Ihsan yang akhirnya berdansa dengan Nirvana,
dan Bang Cun yang mendadak menjadi penatar Oga agar gerakannya tetap mengikuti irama.

Sesungguhnya tidak sedikit saksi "Monumen Sanur Bahagia",
namun sayangnya mereka bukan bagian dari era millenial,
tidak ada yang merekam kami dengan kamera telepon genggam.

Perihal mengenai "Monumen Sanur Bahagia",
spontanitas Oga pada saat mabuklah yang menentukan tema momen tersebut, dan membuat tawa kami semua pecah.

Saat momen berdansa selesai,
kami berempat terlentang dengan pemandangan bintang yang beberapa kali terjatuh dan kami menjadi saksinya.

Terus terang, malam itu seperti proses spiritual bagi saya,
saya mencipta mesin waktu di kepala,
dan mengembalikan momen saat semuanya masih terasa baik-baik saja,
ada sekelumit hal yang berpendar di kepala saya entah sebelah mana,
saya ingin bertemu,
tapi nanti,
mungkin beberapa tahun kedepan,
saya ingin menyodorkan pertanyaan-pertanyaan akan apa yang belum saya mengerti dari beberapa pernyataannya, atau mungkin saya yang akan bercerita padanya tentang semua hal yang terjadi beberapa tahun setelah kepergiannya.

Kesadaran atas kelangkaan momen pada malam itu menjadi daya tarik untuk saya tulis,
yang saya sadari adalah,
kami berempat sengaja dipertemukan dan digiring,
tidak ada yang kebetulan didunia ini,
masing-masing dari kami berada di titik yang menurut saya masih dalam lini yang sama,
kegelisahan atas hidup, berusaha lari dari zona yang terlalu nyaman,
dan memiliki rasa rindu, mulai dari kekasih, keluarga, dan masa lalu.

Bali, November 2017.

J.G







Before Sunrise   http://fashiongrunge.com/2014/09/06/movie-crush-before-sunrise/

Hampir setiap tengah malam,
tubuh saya terlentang, tangan berada diatas dahi,
seperti orang berpikir,
namun tak ada yang terpikir.

hanya flash back satu momen saat saya menjemput kepulangannya dari Yogyakarta,
menerka-nerka akan seperti apa rasanya, setelah 6 bulan tak bersua,
hati berdegup kencang, sama seperti sore itu pada 7 tahun lalu.

Rambutnya lebih panjang dari setiap foto yang rutin Ia kirim,
kulitnya jauh lebih gelap,
kosa katanya jauh lebih beragam,
sudut pandangnya jauh lebih luas.

Sejauh itukah 6 bulan ?

Saya orang yang paling bahagia pada saat itu,
ketidak sempatannya memberi kabar pada saat disana,
Ia bayar dengan obrolan non-stop di teras rumah saya.

beberapa menit disela-sela waktu saat ia sedang asik bercerita,
saya asik sendiri menikmati kebanggaan atas apa yang Ia dapat disana,

Kau tumbuh pesat,
persis dengan apa yang kau inginkan,
semua ceritamu menjadi hal yang baru bagi saya,
kosa kata yang kau bawa menjadi hal menyenangkan untuk didengar,
betapa bangganya,
kau berada ditempat yang tepat.

Hampir 2 minggu berlalu,
saat diperjalanan mengantarkannya untuk kembali pulang,

"Yang harus kamu ingat,
kalau sebelum kamu naik bus saya menangis, bukan maksud saya memberatkan,
tapi saya hanya terlalu bersemangat untuk kamu kembali kesana,
menyusun jalan untuk kembali lagi kesini."

Lost, Lost, Lost, Jonas Mekas (1976)

Saya dan kamu adalah cerita yang saya buat,
saya bahkan sudah mengetahui akhir cerita sebelum saya menulisnya,
bagai nelayan melaut dengan dayung dan tanpa membawa jaring, 
melawan badai, perubahan arus dan sudah mengetahui ia akan pulang tanpa membawa apa-apa,

Sejauh ini saya hanya akan melakukan yang mau saya lakukan,
terlebih saya seorang masokis,
saya senang menyakiti dan menyusahkan diri sendiri,
maka tak ayal saya senang menjalin hubungan denganmu,

Anggap saja ini distraksi dari tentang hidup yang memaksa saya untuk terus menjadi seorang realis,
tentang hidup yang penuh hambatan hingga kegagalan yang membuat semangat padam,
tentang keadaan hati dan mental yang rentan karena tekanan,
dan ketakutan akan tidak jelasnya masa depan.

J.G
Vancouver Sea Wall….

"Ketika semua hal yang menyenangkan tak lagi menyenangkan, ketika kesedihan menyeruak dengan paksa hingga mengendap didalam ingatan, pergilah ke tempat nun jauh."

Ada berapa banyak orang yang melakukan kesalahan dengan sadar?
Ada berapa banyak orang yang tenggelam dalam kesalahannya?
Ada berapa banyak orang yang pergi karena rasa sesal?

Di beberapa malam, saya dipenjara dan dipaksa memuntahkan semua kesalahan yang dengan sadar saya perbuat, bertukar rasa jika-saya-adalah-dia, dan semua kalimat pembelaan pada waktu itu yang mati-matian saya ungkapkan terasa seperti sampah, hingga rasa sesal semakin menyesakkan.

 The view out of the plane window  "When you love someone you have to be careful with it, you might never get it again."

Saya pergi membawa semua sesal, meninggalkan semua tanpa memilih untuk tetap pada apapun dan siapapun.
Entah kebahagiaan macam apa yang membuat saya mengorbankan kepercayaannya, kepercayaan atas semua yang saya lakukan, mengorbankan cintanya yang selalu ingin tumbuh bersama-sama.

Saya pergi dan masih berharap semesta dan mimpi kita yang saya harap akan selalu sama membawamu ketempat yang saya pilih menjadi tempat penebusan dosa.



       Pinterest: @sofibat | Instagram: sofibatt | Snapchat: sasofiab

       Di menit-menit pertama pertemuan, saya mencari tahu siapakah yang akan menjadi pemeran utama jika saja cerita ini di-film-kan. Saya yang pergi menemuinya tanpa beban, atau Ia yang pergi dengan segala beban. Butuh kejelian dan kepekaan tinggi untuk menyulap kebimbangan dan kekhawatiran menjadi tawa dan hal yang menyenangkan.

       Di beberapa perbincangan, atau momen saat beberapa lagu yang bermakna dalam tak sengaja terputar, menggiring saya pada kesadaran bahwa posisi pihak ketiga yang tak terlibat langsung pada hidup masing-masing peran yang sarat akan tragedi.

       Kehidupannya begitu monoton, saya sebut itu tragedi, sedangkan saya sibuk dengan hidup yang sangat komedi, walau tragedi dan komedi memang hanya soal perspektif. Namun saya rasa, hidupnya punya arus emosi yang sangat deras, dan membuat ia sesekali menjadi pemarah dan emosional, semoga saya salah.

       Bagi saya, ada dua cara untuk tetap hidup pasca mengalami trauma atau duka yang mendalam, pertama adalah berangkat dan pergi menjauh dari hal yang menyelipkan masa lalu, kedua, tenggelam didalamnya dan menjalani hidup seperti biasa dengan menderita.

       34 jam menjamah rasa, yang saya dapat bukanlah tentang cinta, melainkan tentang hidup itu sendiri, tentang bagaimana berusaha menghadapi realita hidup yang terkadang tragis namun tak bisa dihindari.

J.G




     

Her - Spike Jonze / "Falling in love is a crazy thing to do. It’s like a socially acceptable form of insanity."

Para jiwa muda sibuk mengejar cita dan cinta,
tak ayal menghabiskan waktunya memikirkan rasa yang disebut cinta,
beragam kata dan sinonim untuk kata cinta,
mereka yang berbahagia menyingkat cinta menjadi arti yang melulu bahagia,
benarkah begitu adanya?

tidakkah cinta seperti mata uang logam?
memiliki dua sisi yang berbeda.

Bagaimana jika ternyata ada beberapa manusia yang merasa cinta adalah distopia?

Tidakkah jatuh cinta begitu menyenangkan?
membuat hidup menjadi hal yang menarik?

Saat kau memutuskan untuk jatuh cinta,
kau bertaruh satu hingga dua urat nadi.

"Saya pergi mengasingkan diri dari dunianya, tak lagi menampakan wajah dihadapnya, itu tak lain sebab saya mencintainya, tak ingin ia terluka untuk kedua kalinya."

"Saya bahagia selalu berdampingan denganmu, cinta ini akan selalu tumbuh."

"Saya cinta, tapi saya tidak bisa, saya tidak cukup percaya untuk hidup lagi bersamanya, saya akan hidup sendiri untuk waktu yang sangat lama."

"Saya mencintamu tanpa pilihan, silahkan pergi untuk hal yang kau suka, saya akan menunggu."

"Saya akan menemanimu hingga nanti, saya akan menjadi salah satu orang yang siap saat kau butuhkan."

"Saya akan berusaha mencintainya, mungkin butuh waktu yang tidak singkat."

"Saya akan sangat mencintaimu kalau kau berbaik hati membelikanku kalung itu, hihihi."


Apakah semua terbaca bahagia?
Semua kembali pada cinta dari batas waktu, batas ruang, ketakutan, kekayaan, kepolosan, hingga kebohongan.