Welcome to our website !

Tulis Tangan

RANDOM CONTENT FOR NORMAL'S HEAD

WILL BE YOUR FAVORITE CLICHE

WILL BE YOUR FAVORITE CLICHE
21+
morning light:

Adalah dia yang belum lama ku jumpa,
diseberang jalan didekat rumah,

tak tertahan rasaku yang bingung,
haruskah tersenyum ataukah menangis,

                                     sepersekian menit ia menghilang,
                                     meninggalkan bau sisa hujan,

                                              tak sedikitpun jejaknya yang tertinggal,
                   sekelebat menghilang,

                             meninggalkan rasa yang menyesakkan dada,
                             entah dari mana datangnya.

J.G
lostinpersona:

Sering saya berbicara pada ingatan masa lampau,
meminta bantuan bagaimanapun caranya agar saya mampu untuk pergi,
tapi sesering itu juga ia datang,
mengajak saya berdialog kecil yang berisi tentang nostalgia,
membawa saya ke ruangan kecil yang selalu saja,
hangat dirasa,
secangkir teh hangat diatas meja kayu berbentuk lingkaran.
.
Proyektor itu membiaskan cahaya pada kain putih,
entah siapa yang menyiapkan semuanya,
sorotan cahaya yang berisikan kenangan masa lalu,

"Kamu mau bawa saya kemana lagi?"
ucapanku sedikit membentak pada kekosongan,
saya rasa ialah yang menyiapkan semuanya,
"Saya sudah sering bicara sama kamu, saya mau pergi!"
tidak ada yang menjawab, yang terdengar hanya
 gema dari suara saya sendiri,
"Saya ngga bisa terus kayak gini!, tolonglah, saya harus menerus-
kan hidup saya"

Ambisi akan masa depan justru menghempas saya jauh ke dalam masa lalu,
Ini seperti hukuman yang halus dan harus,
saat bias-bias cahaya memutar cerita di atas kain putih,
tentang dua anak manusia memangku harapan penuh cinta,
saling berjanji diatas rerumputan dan disaksikan hembusan angin,
tak ada ingatan yang samar,
semua teringat jelas,
selalu saya ingat perasaan itu, dan akan selalu rindu.

.
Saya tidak ingat kapan tepat pertama kali kamu menuliskan puisi untuk saya,
tapi saya ingat perasaan saat pertama kali puisi itu sampai di kotak pesan saya.

Inilah cara kita bertemu lagi,
membangun ingatan tentangmu dikepala,
kau tak tersentuh,
namun terasa,
kekosongan ini mengisi semua dengan kenangan,
selalu ada kebahagiaan dibalik kenangan yang ada.

Terima kasih untuk semua kenangan,
terima kasih sudah membuatku bercerita.

J.G


jrxdn:  The City | Instagram | Facebook:

"Sekencang apapun teriakmu, ia mampu meredamnya hingga tak terdengar." begitulah bayanganku tentang Ibukota yang cantik nan keparat ini.

Ibukota bukan hanya tentang Monas, Menteng dan Jl. Sudirman, Ibukota juga tentang paradoks; rumah kumuh, gang sempit, rumah dibantaran kali dan pemulung yang tidur digerobaknya. Ibukota itu tentang kesenjangan, walau kita semua tahu bahwa hidup memang pahit, dan yang menang adalah mereka yang mampu mengemasnya menjadi manis. Ibukota mampu menghancurkan standar rasa bahagia saya, mampu menarik manusia jauh dari kata sederhana, mereka yang sederhana saat ini hanya belum menemukan saja kesempatan lebih untuk ikut terseok oleh maunya Ibukota.

Lalu, apakah saya benci Ibukota? jelas tidak. Ini semua tentang love and hate relationship. Saya senang berada di Ibukota, namun juga benci karena terlanjur berada didalamnya. Mungkin sebagian orang menganggap ini adalah luapan klise dari mereka yang gagal di Ibukota, saya ralat, ini luapan dari saya yang teradiksi oleh Ibukota, karena saya tidak pernah merasa gagal.

Ibukota menyudahi masa remaja saya, tidak memberi waktu untuk saya membuat origami burung, menggambar dan menghias kamar, selamat! saya ucapkan bagi mereka yang masih bisa. Ini kenapa saya benci terlanjur berada di Ibukota, tidak ada rasa percaya terhadap manusia lain yang juga berada didalamnya, semuanya terasa bergerak sangat cepat, siapa cepat, dia dapat, manusia berubah binatang, termasuk saya.

Andai Ibu saya ada di Ibukota, saya hanya perlu pulang kerumah dan memamah nasehat, andai kau juga ada di Ibukota, saya tidak perlu menjadi seperti sekarang.

But, well, something that makes you the happiest and the saddest person at the same time, that's when it's real, that's when it's worth something.

J.G
Inner Thoughts Statue Memphis Collage 1, statue, memphis, design, graphic, collage, color, colour, memphismilano, Society6, memphisdesign, postmodern, 80s, 90s, classical, thoughts, socrates, grid, classical, geometric, geo, modern, rapsquatInner Thoughts Statue Memphis Collage 1 Art Print:

Sebagai anak muda yang hidup di jaman teknologi dan networking, beberapa persen pertumbuhan pola pikir gue didominasi oleh teknologi dan networking itu sendiri. Teknologi yang gue punya dulu itu adalah handphone jadul hingga upgrade ke handphone yang canggih, komputer jadul hingga berubah ke laptop, networking yang gue mainin itu Friendster, Facebook, Blog, dll, lalu sekarang ditambah dengan platform-platform berita yang bikin kita mudah buat baca tanpa mesti langganan atau beli koran.

Awalnya gue senang dan sangat enjoy dengan segala 'meriah'nya dunia teknologi networking, apalagi waktu boomingnya twitter. Saat itu gue salah satu orang yang seneng vokal dalam issue positive yang lagi hits, gue me-retweet setiap tweet orang-orang yang menurut gue berpengaruh. Dan disanalah gue mulai banyak berpikir dan banyak bahasan obrolan gue sama orang lain itu based on twitter issue, iya .... se-berpengaruh itulah social media di hidup gue.

Tapi, setelah beberapa tahun ini gue 'nyebur' di social media, gue tidak lagi menemukan 'meriah'nya social media yang ada pada waktu itu, dimana isinya masih guyonan dan kultweet yang isinya benar-benar menambah pengetahuan. 

Apa kabar social media saat ini? Riskan !

Berita kecil dapat menjadi besar dalam hitungan jam bahkan menit !
Ini bagus, JIKA, berita yang dibesar-besarkan atau disebar luaskan adalah berita yang dapat dipertanggung jawabkan dan tidak menjadi bahan bakar untuk timbulnya kebencian. Karena ini bahaya, menurut gue jaman sekarang itu banyak banget berita-berita yang dipelintir hingga menjadi hoax.

Terus? Dampaknya apaan?

Dampaknya adalah, orang-orang yang belum 'pinter' main social media bakal gampang banget 'kebakaran' dengan berita-berita yang disajiin di social media, misal, ada orang memposting atau me-repost sesuatu tanpa melampirkan bukti concrete, dan seketika itu bisa menjadi sumber terpercaya buat orang-orang yang emang belum 'pinter' main social media. and then mereka menyebarkan itu di setiap akun social medianya. Atau, mereka menjadi seseorang yang judgemental, gampang banget bully-ing someone that they don't even know.

Yang gue rasakan tentang social media sekarang adalah, bukan lagi tempat bersosial antara satu individu dengan yang lainnya, bukan lagi tempat yang hangat untuk berlama-lama di dalamnya, melainkan tempat penggiringan opini masyarakat terhadap sesuatu, yang gue sayangkan adalah, sesuatu itu adalah issue-issue sara atau sesuatu yang bisa menjadi bahan bakar kebencian. Yang gue sayangkan lagi ialah, masih banyak banget orang-orang yang gampang kegiring, lalu cepat membenci  sesuatu atau seseorang hanya dengan sebuah cerita yang tidak di dukung dengan bukti concrete.

Jaman sekarang tuh apa sih yang bisa di percaya? ada banyak atau cuma guenya aja yang apatis, ya? karena menurut gue kadang platform-platform berita terpercaya aja masih suka melintirin berita, apalagi akun-akun social media! yang jelas-jelas registrasi akun baru itu cuma butuh beberapa menit dan TADAA! jadi!.

So guys, gue juga belom 'pinter' kok!, tapi setidaknya gue memilah-milah apa aja yang bisa di konsumsi, dan mencari banyak lagi referensi sebelum menyimpulkan atau mempercayai sesuatu.


J.G



Image result for nay film

Nay

a Film by Djenar Maesa Ayu 


Saya tidak paham sebenarnya kenapa saya beri tag setiap tulisan saya mengenai film adalah 'Bicara Film', padahal saya ngga ngerti banget soal per-film-an, sinematografi, atau apapun lah unsur-unsur yang mendukung untuk menilai sebuah film, dan memang saya bukan menilai sebenarnya, tapi memberi opini tentang film yang telah saya tonton, dan pastinya sampai habis, jadi 'Bicara Film' ini adalah opini saya tentang film, jadi, jangan berharap akan mendapat ilmu-ilmu per-film-an disini, heheh.

Sudah 8 bulan terakhir ini saya rajin mengecek Kineforum, hanya untuk melihat informasi tentang film-film yang diluar kanal komersial, dan membaca informasi atau program tentang film-film dokumenter luar negeri ataupun dalam negeri. Kemudian saya menemukan jadwal film-film Djenar Maesa Ayu, ada hUSh, Nay, Mereka Bilang, Saya Monyet!, kemudian SAIA, dari ke-empat film tersebut, saya penasaran dengan film Nay, karena saya tahu pemerannya Sha Ine Febriyanti menjadi pemenang dalam kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik di IMAA 2016.

Akhirnya saya berkesempatan menonton Nay diakhir pekan. Ini kali pertama saya menonton film berkonsep one man show atau monolog. Sebagai newbie, saya sempat merasa takut bosan dengan film monolog, yang dimana harus mendengarkan setiap detail percakapan yang melulu. Tapi ternyata, 80 menit berlalu diluar dugaan saya, saya tidak bosan, dan sangat tertarik dengan setiap detail percakapan, setiap percakapan sarat akan pesan, dan dikemas dalam bahasa sehari-hari, dan yang pastinya ciri khas dari Djenar, bahasa yang lantang dan berani dalam ujaran amarah dan kekecewaan.

Saya pastikan, setiap opini yang terketik di dalam tulisan ini objektif adanya.
Film Nay bercerita tentang aktris berusia 30 tahun-an dengan latar belakang masa lalu yang kelam, Nay sedang dalam perjalanan sepulang dari rumah sakit, ia mendapati dirinya hamil 11 minggu dan kekasih yang terlalu berbelit-belit dan acuh tak acuh tentang kehamilannya, serta sahabat yang sekaligus manager, yang dengan halus menggiring Nay untuk menggugurkan kandungannya hanya demi karir dan kesempatan masa depan yang tidak datang dua kali. Disepanjang perjalanan Nay dirundung rasa gelisah, amarah, kecewa, serta bingung, akan apa yang harus Ia lakukan pada bayi yang ada didalam kandungannya hingga Ia berbicara dengan bangku kosong disebelahnya, wujud atas kemarahannya terhadap masa lalu.

Dalam durasi 80 menit, Djenar mampu menginterpretasikan cerita tentang berbagai macam fakta serta sifat-sifat manusia yang dekat dengan kehidupan. Djenar menjabarkan banyak hal penting tentang traumatis atas pemerkosaan serta kekerasan orang tua terhadap anak. Pada plot-plot tertentu saya banyak menduga-duga, semisal, pada saat mobil Nay bertabrakan dengan motor akan terjadi kecelaan hingga Nay meninggal, ternyata tidak, lalu, saya menduga Nay akan menggugurkan kandungannya, karena didukung dengan sifatnya yang sangat meledak-ledak, namun yang terduga sungguh jauh dari itu.

Buat saya ini film bagus, dan Sha Ine Febriyanti memerankannya dengan baik, sehingga saya sebagai penonton tahu setiap perasaan yang ada di dalam cerita tersebut, namun, entah kenapa, untuk pengalaman pertama kali menonton one man show, Sha Ine Febriyanti kurang memuaskan hati saya, mungkin ini masalah selera, saya mengharapkan Ine menangis sesegukan hingga teriak saat mengingat semua yang sedang Nay alami, dan marah semarah mungkin saat Ia mendapati sikap kekasih dan sahabatnya yang tidak sesuai dengan hatinya. Yaa, mungkin selain faktor selera, faktor yang sudah saya katakan diawal juga mempengaruhi soal saya ngga ngerti banget per-film-an maupun akting.

Tapi pesan saya adalah, datang ke Kineforum itu bagus, mengapresiasi ruang redam yang menampung karya-karya yang mungkin tidak mendapat kesempatan atau tidak ingin membawa karyanya ke depan inverstor bisnis.

J.G



Sepengalaman saya, sesungguhnya saya tidak benar-benar memuja segala kemewahan yang terlihat megah atau terdengar gagah. Entah, mungkin saya apatis, dan memilih meninggalkan zaman yang semakin ajaib namun terasa dingin dan memusihi. Semua berlomba-lomba berlari paling kencang, dan tanpa sadar meninggalkan banyak hal, memuja kajaiban, berbicara sama, hingga terasa pengap dan hambar. 

Beruntung hadir "mereka-mereka" (kelompok-kelompok musik yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu) yang menyelamatkan, mengasupi saya dengan kata-kata cinta yang tidak sekedar, lirik tentang kekecewaan (yang tidak melulu tentang cinta), hingga kritik untuk politik, dan tidak banyak kelompok-kelompok musik yang mengupasnya lebih dalam, menurut saya ini penting untuk perkembangan pola pikir saya, agar tidak mengalami keterlambatan dan ditelikung oleh zaman.

"Mereka" membentuk dan membantu saya dalam memilah informasi, film, buku, serta kosa kata dan sketsa yang akan saya tulis disetiap tulisan atau gambar-gambar saya. Iya,....."mereka" berpengaruh hingga kehidupan sehari-hari saya, berkat "mereka" saya tidak menonton sinetron, infotaiment dengan berita simpang siur, dan film-film layar lebar yang terdistorsi oleh money orientation. 

EFEK RUMAH KACA (ERK)
Band asal Jakarta yang dibentuk pada tahun 2001. Beranggotakan Cholil Mahmud (voice, guitar), Adrian Yunan Faisal (Bass, guitar, voice), Bagus Sudibyo (Drum), serta Airil Nur Abadiansyah yang kerap di panggil "Poppie", yang terhitung pada awal Juli 2016 ini resmi sebagai personil tetap. Setelah berganti-ganti nama dan personel sejak awal pembentukan, pada akhirnya mereka menemukan jati diri dengan nama EFEK RUMAH KACA.  Di tahun 2010, persis saat saya pertama kali  mendengar nama mereka dari salah satu teman, dan terasa tidak asing, karena saya sering mendengarnya saat guru geografi saya menerangkan dampak dari pemanasan global, namun saat teman saya memutarkan salah satu lagu dari mereka, saya ternganga, "lho, ini band?"  

"Tersungkur di sisa malam, kosong dan rendah gairah

puisi yang romantis, menetes dari bibir

murung itu sungguh indah, melambatkan butir darah

nikmatilah saja kegundahan ini, segala denyutnya yang merobek sepi

kelesuan ini jangan lekas pergi, aku menyelami sampai lelah hati."


Ya, liriknya memang terasa gelap, dan saya jatuh hati, mereka menyampaikan cinta dengan isian kata-kata yang tidak hanya dipermukaan, tetapi dalam, dan tidak murahan. Point penting dari karya mereka yang saya rasakan adalah setiap lagu maupun album yang diciptakan tidak terasa seperti  terburu-buru atau 'demi mengejar sesuatu', hingga terasa santai, namun sampai, sampai pada telinga dan otak saya, terserap dengan baik setiap pesan yang ingin disampaikan.

Buat saya, EFEK RUMAH KACA banyak menyuarakan hal-hal yang sebelumnya tidak bersuara dan menjadi cerminan, karena mereka berfokus pada apa-apa yang sebenarnya based on true story, dan tidak jarang saya merasa "oh iya juga ya", "lho, ini bener sih", atau "hahaha, gue banget sih emang". Mereka menjabarkan dengan epic setiap potret keadaan yang dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari manusia khususnya di Indonesia, seperti sosial, gaya hidup, psikologis, cinta, penyuka sesama jenis, industri musik saat ini, politik, bahkan religi. Liriknya yang menyentil dalam mengkritisi banyak hal membuat otak saya terangsang untuk memikirkan hal-hal kecil yang dulu saya tidak sadar bahwa itu haruslah dipikirkan.  

EFEK RUMAH KACA hanya satu dari banyak kelompok-kelompok musik kecintaan saya, ada banyak sebenarnya, tetapi tangan saya hanya menulis tentang ERK, itupun hanya sedikit, mungkin karena dukungan kerinduan atas euphoria  konser "PASAR BISA DICIPTAKAN" yang diadakan di Bandung tahun 2015 silam.

Terima kasih untuk "mereka-mereka" yang menemani saya berkontemplasi dan berproses, sejauh ini saya senang "menelan" dan mencerna buah pola pikir "mereka"  yang disajikan dalam bentuk karya (re: lagu), hingga saya mampu menuangkan kembali dalam pemikiran baru. Terima kasih.

gasstation:  Wes Bentley & Thora Birch in American Beauty  My favourite Wes Bentley movie!:

Okay, i don't know how to start this, i feel like it's my very first time to write the opinion about something.

Lately, i have been in cruel phase in life, but i know that is not the cruelest phase in my life, but, it's funny when you feel like you don't trust yourself anymore, and you think your mind is your worst enemy, and what would you do if you are in my fucking position? it'll makes you don't know how to make a good vibe or things. And i'm sure this is often the case for some of you guys.

And yesterday, randomly i want to watch a movie, and it's like Semesta yang mengendalikan untuk i choose a movie that left me feel fine inside and happy for a while.

AMERICAN BEAUTY 

A Movie by Sam Mendes

A sexually frustrated suburban father has a mid-life crisis after becoming infatuated with his daughter's best friend. 

This movie was just very good for me to feel the reflection about another beauty perception.
In life, i almost frequently thinking about everything what is in front of me as reality and ignoring the other side, like Plato's Cave said, it's a mistake, but i did.
And, Ricky Fitts say something crucial and it consumes me, 

"But helps me remember, i need to remember ... sometimes there's so much beauty in the world, i feel like i can't take it, and my heart is just going to cave in"


ya, i often forget about the beauty behind the weird, pain, or chagrin feeling, or the worst something ever, and always thinking truly beauty is about physically, moral police, a good social, has so many things, it's like friends or money, but, it's just dragging me to phase down, and always do something that is distorted by social.

"So, imagine that you are one of the prisioners. You cannot look at anything behind or to the side of you, you must look at the wall in front of you".

-PLATO

I kinda feel a bit better after watching this over and over again, and stop to hate my own self, stop comparing my life to the other one, and i feel like i can be really happy with my weird things in life.... ya, i'm weird.

So, thank you Sam Mendes, Ricky Fitts, also Thora Birch my fave all the time. You made my life.