Welcome to our website !

Tulis Tangan

RANDOM CONTENT FOR NORMAL'S HEAD

WILL BE YOUR FAVORITE CLICHE

WILL BE YOUR FAVORITE CLICHE
21+
Her - Spike Jonze / "Falling in love is a crazy thing to do. It’s like a socially acceptable form of insanity."

Para jiwa muda sibuk mengejar cita dan cinta,
tak ayal menghabiskan waktunya memikirkan rasa yang disebut cinta,
beragam kata dan sinonim untuk kata cinta,
mereka yang berbahagia menyingkat cinta menjadi arti yang melulu bahagia,
benarkah begitu adanya?

tidakkah cinta seperti mata uang logam?
memiliki dua sisi yang berbeda.

Bagaimana jika ternyata ada beberapa manusia yang merasa cinta adalah distopia?

Tidakkah jatuh cinta begitu menyenangkan?
membuat hidup menjadi hal yang menarik?

Saat kau memutuskan untuk jatuh cinta,
kau bertaruh satu hingga dua urat nadi.

"Saya pergi mengasingkan diri dari dunianya, tak lagi menampakan wajah dihadapnya, itu tak lain sebab saya mencintainya, tak ingin ia terluka untuk kedua kalinya."

"Saya bahagia selalu berdampingan denganmu, cinta ini akan selalu tumbuh."

"Saya cinta, tapi saya tidak bisa, saya tidak cukup percaya untuk hidup lagi bersamanya, saya akan hidup sendiri untuk waktu yang sangat lama."

"Saya mencintamu tanpa pilihan, silahkan pergi untuk hal yang kau suka, saya akan menunggu."

"Saya akan menemanimu hingga nanti, saya akan menjadi salah satu orang yang siap saat kau butuhkan."

"Saya akan berusaha mencintainya, mungkin butuh waktu yang tidak singkat."

"Saya akan sangat mencintaimu kalau kau berbaik hati membelikanku kalung itu, hihihi."


Apakah semua terbaca bahagia?
Semua kembali pada cinta dari batas waktu, batas ruang, ketakutan, kekayaan, kepolosan, hingga kebohongan.
A photo from Eternal Sunshine of the Spotless Mind (Film; 2004)

Pada suatu ketika, 
pukul tiga pagi saya terbangun dengan tenang,
membuka mata perlahan,
memandang sudut dinding di langit-langit kamar,
cukup lama berbincang dengan kesunyian,

"Apa yang saya dapat dari sekian lama hidup?
saya rasa hanya omong kosong."
Berkali-kali saya berharap,
terbangun dari tidur saat semua berubah baru,
tak ada hal lama yang tertinggal,
menjalani semua dari awal dan ketidaktahuan,
tidak tahu bagaimana rasanya menyakiti dan disakiti,
tidak tahu bagaimana rasanya dirugikan dan merugikan,

"Jika dikabulkan,
akankah saya tetap hidup dengan cara yang sama?".

J.G
Mary is Happy, Mary is Happy - Biennale College - 24 fois la vérité24 fois la vérité par seconde

Pagi adalah tentang ucap syukur saat diberi kesempatan bangun dari tidur untuk kesekian kali,karena 
kesekian kali pula saya takut untuk tidur, saya takut tak mampu meninggalkan dunia mimpi jika ternyata dunia riil tidak lah seindah itu, atau, saya takut jika saya dipertemukan dengannya di alam mimpi. Semua rasa takut menggenggam erat tubuh ini, tubuh yang menggigil karena kecewa akan rindu, tubuh yang membiru karena menunggu.

Ini tidak semudah yang tertulis, dialog antara hati dan pikiran pada pukul dua malam tidaklah mudah untuk dimengerti, bahkan terkadang satu sama lain berselisih hingga bertengkar hanya karena hati yang terlalu dialogis tentang cinta, yang ternyata pikiran tidaklah sepenuhnya mengerti.
hati bisa saja menjangkau segala hal yang lebih luas dari pada cinta, namun ia membiarkan pikiran lebih bekerja, agar tubuh bangkit dan tak melulu terenyuh.


         henrietta harris   

              Ada nama yang merajah saat lelah membekap hingga napas terengah. Sepengalaman saya, hal ini saya rasakan saat rindu bermunculan di setiap kanal nadi tubuh saya. Tak seharusnya sesulit ini mengatasi rasa rindu disaat dunia sudah millennial dan manusia bergerak begitu cepat. Seharusnya saya gunakan telegram untuk menyampaikan rasa rindu dari kejauhan dengan cepat, berdialogis dengannya tentang segala hal yang saya rasa, mengirim emoji hati, dan bertukar foto tentang apa yang sedang dilakukan.

              Namun isi kepala ini terus menceritakan tentang masa dimana saat kau mampu membaca berulang-ulang buku kesukaanmu, berdiskusi tentang politik buta, hingga bermain tebak lagu dan selalu saya yang menjadi pemenangnya, tak ada bahasan perihal lini kini dalam konteks millennial, karena kau tak suka tentang apa-apa yang tersaji dengan cepat.

"Saya tidak suka jika kamu terus-menerus merengek saat rindu, tak ingatkah kau saat dimana orang tua kita tak mengenal telegram? mereka menyimpan rindu dalam-dalam hingga pada saatnya tiba,  hingga mereka tak terpisahkan. Tolong hentikan rengekanmu tentang rindu, saya pun rindu."

J.G

morning light:

Adalah dia yang belum lama ku jumpa,
diseberang jalan didekat rumah,

tak tertahan rasaku yang bingung,
haruskah tersenyum ataukah menangis,

                                     sepersekian menit ia menghilang,
                                     meninggalkan bau sisa hujan,

                                              tak sedikitpun jejaknya yang tertinggal,
                   sekelebat menghilang,

                             meninggalkan rasa yang menyesakkan dada,
                             entah dari mana datangnya.

J.G
lostinpersona:

Sering saya berbicara pada ingatan masa lampau,
meminta bantuan bagaimanapun caranya agar saya mampu untuk pergi,
tapi sesering itu juga ia datang,
mengajak saya berdialog kecil yang berisi tentang nostalgia,
membawa saya ke ruangan kecil yang selalu saja,
hangat dirasa,
secangkir teh hangat diatas meja kayu berbentuk lingkaran.
.
Proyektor itu membiaskan cahaya pada kain putih,
entah siapa yang menyiapkan semuanya,
sorotan cahaya yang berisikan kenangan masa lalu,

"Kamu mau bawa saya kemana lagi?"
ucapanku sedikit membentak pada kekosongan,
saya rasa ialah yang menyiapkan semuanya,
"Saya sudah sering bicara sama kamu, saya mau pergi!"
tidak ada yang menjawab, yang terdengar hanya
 gema dari suara saya sendiri,
"Saya ngga bisa terus kayak gini!, tolonglah, saya harus menerus-
kan hidup saya"

Ambisi akan masa depan justru menghempas saya jauh ke dalam masa lalu,
Ini seperti hukuman yang halus dan harus,
saat bias-bias cahaya memutar cerita di atas kain putih,
tentang dua anak manusia memangku harapan penuh cinta,
saling berjanji diatas rerumputan dan disaksikan hembusan angin,
tak ada ingatan yang samar,
semua teringat jelas,
selalu saya ingat perasaan itu, dan akan selalu rindu.

.
Saya tidak ingat kapan tepat pertama kali kamu menuliskan puisi untuk saya,
tapi saya ingat perasaan saat pertama kali puisi itu sampai di kotak pesan saya.

Inilah cara kita bertemu lagi,
membangun ingatan tentangmu dikepala,
kau tak tersentuh,
namun terasa,
kekosongan ini mengisi semua dengan kenangan,
selalu ada kebahagiaan dibalik kenangan yang ada.

Terima kasih untuk semua kenangan,
terima kasih sudah membuatku bercerita.

J.G


jrxdn:  The City | Instagram | Facebook:

"Sekencang apapun teriakmu, ia mampu meredamnya hingga tak terdengar." begitulah bayanganku tentang Ibukota yang cantik nan keparat ini.

Ibukota bukan hanya tentang Monas, Menteng dan Jl. Sudirman, Ibukota juga tentang paradoks; rumah kumuh, gang sempit, rumah dibantaran kali dan pemulung yang tidur digerobaknya. Ibukota itu tentang kesenjangan, walau kita semua tahu bahwa hidup memang pahit, dan yang menang adalah mereka yang mampu mengemasnya menjadi manis. Ibukota mampu menghancurkan standar rasa bahagia saya, mampu menarik manusia jauh dari kata sederhana, mereka yang sederhana saat ini hanya belum menemukan saja kesempatan lebih untuk ikut terseok oleh maunya Ibukota.

Lalu, apakah saya benci Ibukota? jelas tidak. Ini semua tentang love and hate relationship. Saya senang berada di Ibukota, namun juga benci karena terlanjur berada didalamnya. Mungkin sebagian orang menganggap ini adalah luapan klise dari mereka yang gagal di Ibukota, saya ralat, ini luapan dari saya yang teradiksi oleh Ibukota, karena saya tidak pernah merasa gagal.

Ibukota menyudahi masa remaja saya, tidak memberi waktu untuk saya membuat origami burung, menggambar dan menghias kamar, selamat! saya ucapkan bagi mereka yang masih bisa. Ini kenapa saya benci terlanjur berada di Ibukota, tidak ada rasa percaya terhadap manusia lain yang juga berada didalamnya, semuanya terasa bergerak sangat cepat, siapa cepat, dia dapat, manusia berubah binatang, termasuk saya.

Andai Ibu saya ada di Ibukota, saya hanya perlu pulang kerumah dan memamah nasehat, andai kau juga ada di Ibukota, saya tidak perlu menjadi seperti sekarang.

But, well, something that makes you the happiest and the saddest person at the same time, that's when it's real, that's when it's worth something.

J.G