K O SONG

Sering saya berbicara pada ingatan masa lampau,
meminta bantuan bagaimanapun caranya agar saya mampu untuk pergi,
tapi sesering itu juga ia datang,
mengajak saya berdialog kecil yang berisi tentang nostalgia,
membawa saya ke ruangan kecil yang selalu saja,
hangat dirasa,
hangat dirasa,
secangkir teh hangat diatas meja kayu berbentuk lingkaran.
.
Proyektor itu membiaskan cahaya pada kain putih,
entah siapa yang menyiapkan semuanya,
sorotan cahaya yang berisikan kenangan masa lalu,
.
Proyektor itu membiaskan cahaya pada kain putih,
entah siapa yang menyiapkan semuanya,
sorotan cahaya yang berisikan kenangan masa lalu,
"Kamu mau bawa saya kemana lagi?"
ucapanku sedikit membentak pada kekosongan,
saya rasa ialah yang menyiapkan semuanya,
"Saya sudah sering bicara sama kamu, saya mau pergi!"
tidak ada yang menjawab, yang terdengar hanya
gema dari suara saya sendiri,
"Saya ngga bisa terus kayak gini!, tolonglah, saya harus menerus-
kan hidup saya"
Ambisi akan masa depan justru menghempas saya jauh ke dalam masa lalu,
Ini seperti hukuman yang halus dan harus,
saat bias-bias cahaya memutar cerita di atas kain putih,
tentang dua anak manusia memangku harapan penuh cinta,
saling berjanji diatas rerumputan dan disaksikan hembusan angin,
tak ada ingatan yang samar,
semua teringat jelas,
selalu saya ingat perasaan itu, dan akan selalu rindu.
.
Saya tidak ingat kapan tepat pertama kali kamu menuliskan puisi untuk saya,
tapi saya ingat perasaan saat pertama kali puisi itu sampai di kotak pesan saya.
Inilah cara kita bertemu lagi,
membangun ingatan tentangmu dikepala,
kau tak tersentuh,
namun terasa,
kekosongan ini mengisi semua dengan kenangan,
membangun ingatan tentangmu dikepala,
kau tak tersentuh,
namun terasa,
kekosongan ini mengisi semua dengan kenangan,
selalu ada kebahagiaan dibalik kenangan yang ada.
Terima kasih untuk semua kenangan,
terima kasih sudah membuatku bercerita.
J.G
0 komentar