TAK ADA IBU DI TENGAH IBUKOTA

Ibukota bukan hanya tentang Monas, Menteng dan Jl. Sudirman, Ibukota juga tentang paradoks; rumah kumuh, gang sempit, rumah dibantaran kali dan pemulung yang tidur digerobaknya. Ibukota itu tentang kesenjangan, walau kita semua tahu bahwa hidup memang pahit, dan yang menang adalah mereka yang mampu mengemasnya menjadi manis. Ibukota mampu menghancurkan standar rasa bahagia saya, mampu menarik manusia jauh dari kata sederhana, mereka yang sederhana saat ini hanya belum menemukan saja kesempatan lebih untuk ikut terseok oleh maunya Ibukota.
Lalu, apakah saya benci Ibukota? jelas tidak. Ini semua tentang love and hate relationship. Saya senang berada di Ibukota, namun juga benci karena terlanjur berada didalamnya. Mungkin sebagian orang menganggap ini adalah luapan klise dari mereka yang gagal di Ibukota, saya ralat, ini luapan dari saya yang teradiksi oleh Ibukota, karena saya tidak pernah merasa gagal.
Ibukota menyudahi masa remaja saya, tidak memberi waktu untuk saya membuat origami burung, menggambar dan menghias kamar, selamat! saya ucapkan bagi mereka yang masih bisa. Ini kenapa saya benci terlanjur berada di Ibukota, tidak ada rasa percaya terhadap manusia lain yang juga berada didalamnya, semuanya terasa bergerak sangat cepat, siapa cepat, dia dapat, manusia berubah binatang, termasuk saya.
Andai Ibu saya ada di Ibukota, saya hanya perlu pulang kerumah dan memamah nasehat, andai kau juga ada di Ibukota, saya tidak perlu menjadi seperti sekarang.
But, well, something that makes you the happiest and the saddest person at the same time, that's when it's real, that's when it's worth something.
J.G
0 komentar